Sistranas Pengembangan Transportasi Rel


   PT Kereta Api (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena jasa ini merupakan jasa yang dipakai oleh banyak konsumen, maka PT Kereta Api (Persero) harus memberikan pelayanan jasa yang terbaik kepada konsumennya. Dalam dunia jasa transportasi, kereta api merupakan salah satu transportasi jasa yang banyak dipilih konsumen khususnya di Indonesia. Banyaknya konsumen memilih jasa transportasi ini karena harga yang terjangkau dimanfaatkan oleh konsumen. Dalam kenyataannya, kereta api merupakan alat transportasi yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Bukan berarti PT Kereta Api (Persero) tidak memiliki persaingan dalam bisnisnya. Ongkos yang murah bukan berarti pihak kereta api tidak memperhatikan sarana maupun prasarana, tetapi juga harus memperhatikan sikap dari karyawan dalam menangani konsumennya. Diketahui sarana atau fasilitas yang ada di Stasiun KA DAOP II Bandung secara keseluruhan sudah baik, namun sebagai penyedia jasa Stasiun KA DAOP II Bandung belum mengetahui tingkat kepuasan dari konsumennya dengan sarana atau fasilitas yang telah disediakan.
   PT Kereta Commuter Indonesia yang pada saat itu bernama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) dibentuk sesuai dengan Inpres No. 5 tahun 2008 dan Surat Menneg BUMN No. S-653/MBU/2008 tanggal 12 Agustus 2008. Pembentukan anak perusahaan ini berawal dari keinginan para stakeholder-nya untuk lebih fokus dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dan menjadi bagian dari solusi permasalahan transportasi perkotaan yang semakin kompleks. Perusahaan ini resmi menjadi anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sejak tanggal 15 September 2008 yaitu sesuai dengan Akta Pendirian No. 415 Notaris Tn. Ilmiawan Dekret, S.H.
   
Railink (perseroan terbatas) merupakan perusahaan hasil kerja sama (joint venture) antara dua BUMN, yaitu PT Kereta Api Indonesia dan PT Angkasa Pura II (kedua-duanya Persero) dengan komposisi kepemilikan saham 60% PT KAI dan 40% PT AP II.
   Program Peningkatan Aksesibilitas Pelayanan Angkutan Perkeretaapian Dalam rangka peningkatan aksesibilitas pelayanan angkutan perkeretaapian, telah dilaksanakan kegiatan pengadaan sarana perkeretaapian khususnya untuk menunjang angkutan KA ekonomi jarak menengah dan jauh. Dalam kurun waktu tahun 2005-2009, jumlah pengadaan kereta ekonomi (K3 termasuk KMP3) yang telah dilaksanakan adalah sebanyak 152 unit dari target 90 unit atau realisasi mencapai 168,89%. Selain itu, untuk mendukung pelayanan KA komuter/perkotaan telah dilaksanakan pengadaan KRD/KRDI sejumlah 63 unit dari target 15 unit atau realisasi mencapai 420% serta pengadaan KRL sejumlah 68 unit dari target 10 unit atau realisasi mencapai 680%. Pengadaan tersebut termasuk hasil kegiatan modifikasi KRL menjadi KRDE diantaranya untuk dioperasikan pada lintas Yogyakarta – Kutoarjo (Prambanan Ekspres/Prameks), Semarang – Solo (Banyu Biru), Semarang – Tegal (Kaligung Baru), Padalarang – Bandung – Cicalengka (Baraya Geulis), lintas perkotaan Padang (Dang Tuanku), lintas perkotaan Palembang yaitu antara Stasiun Simpang - Stasiun Payakabung - Stasiun Indralaya, serta untuk pengoperasian perkeretaapian NAD sebanyak 2 unit KRDI. Sedangkan untuk kegiatan pengadaan lokomotif yang dalam kurun waktu 2005-2009 belum terealisasi karena masih dalam proses pengadaan dengan pembiayaan direncanakan menggunakan pinjaman luar negeri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

supply chain concept

Transportation Risk